Menjaga Keutuhan NKRI dari Berbagai Ancaman.
Teks Resensi: Vallery Evellyn / XIA / 25
Judul: Reuni Z
Sutradara: Monty Tiwa Soleh Solihun
Tahun tayang: 12 april 2018
Durasi film: 1 jam 36 menit
Film "Reuni Z" merupakan film Indonesia yang di sutradai oleh Monty Tiwa Soleh Solihun dan tayang pada tahun 2018. Film ini menghadirkan genre horor dan komedi yang menceritakan mengenai sebuah reuni SMA yang berujung serangan zombie. Hal itu justru membuat tokoh-tokoh harus bertahan hidup dari serangan zombie.
Keunggulan:
"Reuni Z" menghadirkan film horor komedi dengan tema zombie yang dimana itu adalah hal baru di dunia perfilman Indonesia. Memiliki anak SMA sebagai pemerannya membuat film ini menarik untuk ditonton terutama bagi remaja, karena remaja masa kini begitu tertarik mengenai genre film seperti zombie. Cara pengambilan video pun sudah termasuk bagus.
Kekurangan:
Dalam film "Reuni Z" terdapat kekurangan seperti, pemain kurang mendalami saat menjadi zombie; dari cara berjalan, ada beberapa yang ekspreksi nya juga kurang dapat feel nya. Lalu makeup para zombie masih terbilang kurang sehingga zombie malah tidak terlihat seram sama sekali.
Meski film memiliki kekurangan, menurut saya film ini cocok untuk ditonton sendiri maupun bersama keluarga karena film ini meskipun menegangkan, juga mampu untuk membuat penonton terhibur karena adanya komedi di film ini.
Rasi Bintang - Lukisan Khayal di Langit
Galaksi Bimasakti Terlihat Dari Bumi
Jika kalian berada di bukit gelap di pinggir kota pada malam hari tataplah langit. Kalian mungkin akan melihat pita cahaya redup yang melengkung di atas kepala seperti susu tumpah di langit dari tepi ke tepi seberang. Orang Romawi kuno menyebut pita cahaya itu via lactea, yang berarti "jalan susu" atau "milky way" Nama tersebut melekat selama 2.000 tahun.
Banyak orang di dunia menggunakan istilah Milky Way, tapi beberapa kebudayaan memiliki berbeda untuk pita cahaya tadi. Di Cina orang-orang menyebutnya sungai perak, sedangkan masyarakat Gurun Kalahari di Afrika bagon selatan menyebutnya tulang punggung malam. Di Indonesia pita cahaya itu disebut Bimasakti.
Milky Way Galaxy adalah jenis galaksi spiral berbatang (barred spiral galaxy). Diperkiraan memiliki diameter antara 170.000 – 200.000 tahun cahaya dengan ketebalan sekitar 2.000 tahun cahaya dan terdiri dari 250 – 500 miliar bintang.
Galaksi Bimasakti tampak seperti pita bintang-bintang di langit, tapi sejati nya berupa piringan. Ratusan miliyaran bintang berkumpul membentuk garis-garis yang disebut dengan lengan spiral karena garis-garis itu melengkung ke arah luar. Ketika kita menatap langit malam, kita melihat tepi piringan galaksi, seperti melihat Frisbee dari samping.
Bumi terletak kira-kira di tengah-tengah antara pusat Galaksi Bimasakti dan ujung terluarnya, di salah satu lengan spiralnya. Cahaya dari pusat galaksi membutuhkan waktu 25.000 tahun cahaya untuk sampai ke kita. Tata surya kita membutuhkan waktu 230 juta tahun untuk satu kali mengitari pusat galaksi. Terakhir kali kita berada di sisi yang sekarang di Bimasakti, dinosaurus pertama baru mulai muncul.
Di pusat galaksi, ledakan bintang yang sering terjadi memanaskan sebagian besar area sekitarnya. Ledakan ledakan itu bisa melenyapkan kehidupan di planet planet terdekat. Kita beruntung karena Bumi berada jauh dari pusat galaksi.
Pada tahun 1610 Galileo dengan teleskopnya berhasil mengungkapkan bahwa pita cahaya itu sebetulnya terdiri atas bintang-bintang. Kini kita tahu kalau ada ratusan milyar bintang di galaksi kita. Meskipun demikian, pada malam yang cerah sekalipun, orang hanya bisa melihat rata-rata sekitar 2.000 bintang dengan mata telanjang. Bimasaktı juga punya petak petak gelap. Petak petak itu bukan area tanpa bintang, melainkan awan debu antarbintang menghalangi cahaya bintang-bintang di belakangnya.






.jpg)






